Misteri Jarum Suntik di Tambak Sumur: Siapa Pemilik Limbah Medis Itu?

FT: Limbah medis dan jarum suntik ditemukan di saluran air dekat Exit Tol Tambak Sumur, Sidoarjo.
SIDOARJO I Lintas Hukrim — Tumpukan limbah medis kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) ditemukan di saluran air di sisi kiri Exit Tol Tambak Sumur, Sidoarjo. Temuan itu memunculkan pertanyaan: dari mana limbah tersebut berasal dan siapa yang membuangnya?
Jarum suntik bekas, vial obat, kasa, serta perlengkapan medis lainnya ditemukan di lokasi. Persoalan menjadi perhatian setelah di antara limbah tersebut terdapat kemasan obat dan kantong berlogo RSUD Eka Candrarini, rumah sakit milik Pemerintah Kota Surabaya.
Temuan itu kemudian ditindaklanjuti Pemkot Surabaya bersama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.
Temuan di Lokasi
Kepala Dinas Kesehatan Surabaya dr. Billy Daniel Messakh menyebut dirinya masih berada di lokasi hingga Selasa (25/8/2026) sekitar pukul 20.00 WIB. Namun, ketika lokasi kembali dipantau pada Rabu pagi, limbah tersebut sudah tidak ada.
Menurut informasi dari DLH Sidoarjo, terdapat dua orang yang disebut mengambil limbah tersebut. Identitas maupun asal kedua orang itu masih belum diketahui.
Hilangnya limbah justru menyisakan pertanyaan baru. Siapa yang mengambilnya dan untuk kepentingan apa?
Pemkot Turun Tangan
Pemkot Surabaya kemudian melakukan pengecekan bersama Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, DLHK Sidoarjo, serta pihak RSUD Eka Candrarini.
Pemeriksaan dilakukan dengan mencocokkan satu per satu produk medis yang ditemukan di lokasi dengan barang yang digunakan dan dibeli rumah sakit.
Hasil awal pemeriksaan menunjukkan adanya perbedaan.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan, RSUD Eka Candrarini sejak awal berdiri tidak pernah menggunakan maupun membeli spuit dengan merek yang ditemukan di lokasi.
“Spuit yang ditemukan jumlahnya banyak. Sudah dicek bersama DLHK Sidoarjo, DLH Surabaya dan pihak rumah sakit EC. Hasilnya tidak ada merek spuit tersebut yang digunakan rumah sakit,” kata Eri.
Nama RSUD Eka Candrarini Muncul
Meski demikian, persoalan belum berhenti.
Di antara tumpukan limbah ditemukan kantong kertas berlogo RSUD Eka Candrarini. Kemasan inilah yang kemudian menjadi salah satu petunjuk yang perlu dijelaskan.
Eri mengatakan, kantong tersebut bukan kemasan untuk spuit, melainkan kantong kertas yang digunakan pasien rawat jalan untuk membawa obat.
Kebijakan penggunaan kantong kertas tersebut merupakan bagian dari upaya rumah sakit mengurangi penggunaan plastik.
Karena diberikan kepada pasien, keberadaan kantong berlogo rumah sakit di luar fasilitas kesehatan tidak otomatis membuktikan bahwa limbah medis yang ditemukan berasal dari RSUD Eka Candrarini.
Namun, bagaimana kantong tersebut kemudian berada di antara tumpukan limbah medis di kawasan Tambak Sumur tetap menjadi pertanyaan yang harus dijawab.
Keterangan Pihak Rumah Sakit
Pihak RSUD Eka Candrarini melakukan pencocokan terhadap sejumlah barang yang ditemukan.
Ketua Tim Kerja Penunjang Nonmedik RSUD Eka Candrarini, Wuri Handayani, menyebut jarum suntik yang ditemukan bermerek OneMed, sedangkan rumah sakit menggunakan produk Nipro.
Perbedaan juga disebut ditemukan pada obat dan perlengkapan medis lainnya.
Di lokasi ditemukan vial obat kontrasepsi Cyclofem. Menurut pihak rumah sakit, obat tersebut tidak digunakan dalam pelayanan RSUD Eka Candrarini.
Begitu pula dengan Ceftriaxone. Produk yang ditemukan disebut berbeda dengan produk yang digunakan rumah sakit.
“Di lokasi itu kami menemukan merek yang berbeda, sehingga itu bukan barang/limbah B3 milik Rumah Sakit Eka Candrarini,” ujar Wuri.
Soal Recapping Jarum
Ada pula kejanggalan lain yang menjadi perhatian, yakni kondisi jarum suntik yang ditemukan.
Menurut pihak rumah sakit, jarum-jarum tersebut ditemukan dalam kondisi telah ditutup kembali atau recapping.
Prosedur tersebut, kata Wuri, tidak diterapkan di RSUD Eka Candrarini.
Setelah digunakan, jarum langsung dimasukkan ke dalam safety box tanpa ditutup kembali. Wadah kemudian disegel dan ditempatkan di TPS Limbah B3 sebelum diangkut pihak ketiga.
RSUD Eka Candrarini menyebut pengelolaan limbah B3 dilakukan bekerja sama dengan PT Wastec International, dengan pengangkutan dilakukan secara berkala.
DPRD Ikut Menelusuri
Persoalan ini kemudian menarik perhatian Komisi D DPRD Kota Surabaya.
Anggota Komisi D, Dr. Michael Leksodimulyo, MBA, M.Kes, turun langsung ke RSUD Eka Candrarini untuk melihat mekanisme pengelolaan limbah medis.
Menurut Michael, rumah sakit telah memiliki kerja sama dengan pihak ketiga dan prosedur pengelolaan limbah sejak mulai beroperasi.
Namun, justru perbedaan antara produk medis di lokasi dengan produk yang digunakan rumah sakit menjadi salah satu titik yang perlu didalami.
Salah satunya adalah spuit 3 cc. RSUD Eka Candrarini disebut menggunakan Nipro, sedangkan yang ditemukan di lokasi bermerek OneMed.
“Yang menjadi perhatian saya, produk yang ditemukan dan dibuang di lokasi itu tidak sama dengan produk yang digunakan di rumah sakit ini,” ujar Michael.
Pertanyaan Berikutnya: Dari Mana Limbah Itu Berasal?
Temuan ini kini bergeser dari sekadar soal siapa pemilik kantong berlogo rumah sakit menjadi pertanyaan yang lebih besar: siapa sebenarnya sumber limbah medis tersebut?
Sebab, berdasarkan pemeriksaan awal Pemkot Surabaya dan RSUD Eka Candrarini, sejumlah produk medis yang ditemukan tidak sesuai dengan produk yang digunakan rumah sakit.
Di sisi lain, keberadaan kantong berlogo RSUD Eka Candrarini tetap menjadi petunjuk yang belum sepenuhnya terjawab.
Pemkot Surabaya menyatakan penelusuran akan terus dilakukan bersama Pemkab Sidoarjo dan aparat kepolisian.
Eri Cahyadi menegaskan, apabila nantinya ditemukan fasilitas kesehatan yang membuang limbah medis tanpa prosedur, persoalan tersebut dapat diproses sesuai ketentuan hukum.
“Yang sekarang kami telusuri adalah siapa yang menaruh kemasan RSUD EC di lokasi tersebut. Sebab, spuit yang ditemukan bukan merupakan merek yang digunakan rumah sakit EC,” tegas Eri.
Sementara itu, hilangnya limbah dari lokasi sebelum asal-usulnya dipastikan juga menambah satu lapis misteri dalam perkara ini.
Kini, kuncinya berada pada penelusuran asal produk medis, rantai pengelolaan limbah, keberadaan kantong berlogo RSUD Eka Candrarini, serta identitas pihak yang mengambil limbah dari lokasi.
Sampai seluruh rangkaian tersebut terungkap, keberadaan logo rumah sakit pada salah satu kemasan belum dapat dijadikan bukti bahwa RSUD Eka Candrarini merupakan pihak yang membuang limbah medis tersebut.





