Rugi Rp4,8 Miliar, Mourin Bantah Isu Aliran Dana ke Spa dan Tuduhan “Ani-ani Kapolda”

Ft: Mourin Chienci Lintong saat memberikan keterangan kepada awak media dalam konferensi pers terkait polemik arisan Meouw yang disebut menimbulkan kerugian Rp4,8 miliar.
SURABAYA I LintasHukrim.Com — Mourin Chienci Lintong, pengelola arisan Meouw, membantah tudingan bahwa dana arisan mengalir ke sebuah tempat spa yang dikaitkan dengan dirinya. Ia juga menepis sebutan “ani-ani Kapolda” yang beredar di media sosial. Di tengah polemik arisan yang disebutnya mengalami kemacetan pembayaran hingga menimbulkan persoalan dana sekitar Rp4,8 miliar, Mourin meminta seluruh persoalan diusut melalui jalur hukum.
Menurut Mourin, kemacetan arisan Meouw bermula pada Februari 2026. Ia menyebut 33 anggota tidak memenuhi kewajiban pembayaran sehingga mengganggu perputaran dana dalam perkumpulan tersebut.
“Pemicu awal kemacetan pembayaran adalah Chester Jeveline Thaniago. Dia mengambil banyak slot arisan dengan nilai angsuran mencapai Rp400 juta. Namun, pembayaran tidak dilanjutkan,” kata Mourin.
Ia mengaku berupaya menstabilkan arus pembayaran setelah masalah tersebut muncul. Namun, menurut dia, persoalan lain kemudian timbul ketika Aika Harismawati disebut tidak memenuhi kewajiban arisannya dengan nilai angsuran Rp100 juta per bulan. Mourin mengklaim selisih dana yang dibawa Aika mencapai lebih dari Rp1 miliar.
Atas persoalan itu, Mourin mengaku telah melaporkan tiga orang yang dinilainya memiliki persoalan dana terbesar, yakni Aika Harismawati, Netty Hariati, dan Chester Jeveline Thaniago. Menurut dia, laporan terhadap Aika dan Netty lebih dahulu diajukan, sedangkan laporan terhadap Chester menyusul.
“Laporan tersebut telah masuk ke Polrestabes Surabaya melalui Unit Harda sejak 28 Juli 2026,” ujarnya.
Keterangan tersebut merupakan versi Mourin. Status dan tanggung jawab masing-masing pihak perlu dikonfirmasi melalui dokumen laporan serta keterangan pihak terkait.
Sengkarut transaksi arisan
Mourin juga menjelaskan persoalannya dengan Ara Herawaty, yang disebutnya sebagai pelapor awal dalam perkara arisan Meouw. Ia mengaku mengenal Ara melalui seorang teman bernama Belinda.
Menurut Mourin, Ara semula mengikuti arisan menurun dengan dana transfer lebih dari Rp100 juta. Namun, ia menyebut Ara kemudian tidak melanjutkan pembayaran arisan tersebut.
Persoalan lain, kata Mourin, berkaitan dengan transaksi arisan flat senilai Rp1,9 miliar. Ia mengaku baru mengetahui setelah memeriksa mutasi rekening bersama akuntannya bahwa dana untuk transaksi tersebut bukan ditransfer oleh Ara, melainkan oleh seseorang bernama Juanda Kurniadi.
Mourin menyatakan telah membayarkan sekitar Rp1,4 miliar kepada Ara. Berdasarkan perhitungannya, terdapat selisih sekitar Rp600 juta yang masih perlu ditelusuri.
“Kalau perhitungan didasarkan pada nama pihak yang benar-benar melakukan transaksi, terdapat persoalan kewajiban dana yang berbeda. Harusnya Ara masih memiliki kewajiban transfer sekitar Rp1,3 miliar kepada saya, sedangkan saya memiliki kewajiban pengembalian dana sekitar Rp1,9 miliar kepada Juanda,” bebernya.
Perbedaan perhitungan itu, menurut Mourin, perlu diperiksa dengan mencocokkan bukti transfer, mutasi rekening, dan kesepakatan masing-masing pihak. Karena itu, hubungan antara transaksi tersebut dan kewajiban setiap pihak masih membutuhkan verifikasi berdasarkan dokumen.
Dugaan nama fiktif dalam daftar member
Mourin mengaku mengenal Chester melalui seorang teman bernama Dewi Nina. Menurut dia, Chester pada awalnya mengikuti arisan menurun dengan nilai relatif kecil. Belakangan, Chester bersama sejumlah orang, termasuk Aika, disebut mengajak membuat arisan dengan nilai lebih besar, mulai Rp50 juta hingga Rp500 juta.
Mourin mengeklaim Chester dan Aika kerap mengambil nomor atas dalam arisan bernilai besar. Ia juga menduga terdapat persoalan lain yang memengaruhi keberlangsungan arisan Meouw, termasuk keberadaan arisan sejenis yang dikaitkan dengan Chester.
“Saya menduga ada unsur kesengajaan yang membuat arisan Meouw mengalami kerusakan. Hal itu berkaitan dengan keberadaan arisan sejenis yang juga dimiliki Chester,” katanya.
Ia mengaku memiliki bukti yang menurutnya menunjukkan adanya nama-nama fiktif dalam daftar anggota arisan yang dikaitkan dengan Chester, termasuk nama suaminya sendiri. Klaim tersebut masih perlu diuji melalui pemeriksaan dokumen dan keterangan pihak-pihak terkait.
Bantah isu spa dan tuduhan di media sosial
Di tengah polemik tersebut, Mourin membantah tudingan bahwa uang arisan mengalir ke sebuah tempat spa yang dikaitkan dengan dirinya. Ia menegaskan tempat spa yang dimaksud bukan miliknya.
“Tidak ada sama sekali. Tempat spa yang dituduhkan kepada saya itu bukan punya saya,” ujarnya.
Mourin juga membantah informasi di media sosial yang menyebut dirinya sebagai “ani-ani Kapolda”. Ia menilai sebutan tersebut merugikan nama baiknya.
Menurut Mourin, sejumlah akun media sosial telah dilaporkan karena diduga menyebarkan informasi yang tidak benar. Salah satu akun yang disebutnya ialah @kep_alakeluarga.
Ia mengaku laporan tersebut telah disampaikan melalui Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) dan kini ditangani Unit Siber Polda Jawa Timur. Penanganan serta status laporan itu perlu dikonfirmasi kepada kepolisian.
Mourin berharap aparat penegak hukum memeriksa seluruh laporan yang berkaitan dengan arisan Meouw, baik mengenai dugaan persoalan dana maupun penyebaran informasi yang dinilainya mencemarkan nama baik. Ia menyatakan siap membuktikan keterangannya melalui dokumen dan bukti transaksi.
“Saya sangat berharap Polda Jawa Timur bisa mengusut tuntas semua kasus ini sesuai prosedur. Laporan dan berita hoaks yang beredar sangat menghancurkan reputasi dan membunuh karakter saya,” ujar Mourin.





